Rabu, 27 April 2016
Trik Pengemis Memenuhi Kebutuhan Hidupnya
“Zaman sekarang keadaan ekonomi semakin mencekik banyak orang, pekerjaan susah di dapatkan, untuk orang yang berpendidikan saja tidak ada lowongan apalagi untuk orang yang tidak punya pendidikan. Khususnya di Indonesia ini kejahatan banyak dipicu karena masalah ketidaksanggupan ekonomi. Adapun salah satunya masyarakat saat ini banyak mengandalkan perhatian dari orang lain, yaitu dengan cara meminta-minta.
Untuk memperkecil jangkauan, saya akan membahas salah satu dampak dari ketidaksangggupan ekonomi bagi masyarakat yang malas berusaha yaitu para pengemis. Di Aceh salah satunya, sebenarnya banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang mau berusaha untuk bekerja karena di Aceh ini begitu banyak lahan yang bisa dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mencari penghidupan. Di daerah-daerah kecil misalnya untuk memenuhi kehidupan mereka bisa memenuhinya tanpa harus ada pekerjaan yang cukup mamadai, seperti dengan memancing ikan di sungai-sungai dan memetik sayuran di semak belukar untuk keperluan makan sehari-hari. Tanah kosong di kelola menjadi taman sayuran, dan mengolah berbagai tumbuhan yang ada menjadi kerajinan atau suatu karya yang bernilai.
Hanya saja kebanyakan dari masyarakat Aceh ini lebih menganggap sesuatu yang dinamakan pekerjaan yang menghasilkan dan terjamin itu adalah pegawai, dari situ timbullah perasaan malas untuk bekerja, apalagi bagi yang tidak mempunyai pendidikan mereka menganggap bahwasanya tidak ada pekerjaan yang cocok untuk mereka, karena untuk lulusan sarjana saja banyak yang menganggur di warung kopi, satu-satunya cara termudah dan tidak beresiko serta membutuhkan banyak tenaga untuk mendapat penghasilan ialah dengan mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Karena dengan itu tanpa perlu bekerja keras pun mereka bisa mendapatkan penghasilan yang mungkin lebih dari cukup, sehingga sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka untuk meminta-minta dan mengharap belas kasihan dari orang lain. Apalagi di daerah Aceh banyak lembaga-lembaga yang memberikan bantuan bagi orang-orang seperti mereka. Bahkan adapun diantara mereka yang bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak layak untuk menerima bantuan pun mengikutsertakan diri untuk bisa menerima bantuan. Orang-orang yang seperti ini biasanya selalu tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh dan merasa percaya diri menerima bantuan yang tidak semestinya diterima.
Saya pernah memperhatikan beberapa pengemis atau orang yang meminta-minta dengan cara yang beragam, salah satunya ada diantara mereka meninggalkan anaknya di mesjid raya yang biasanya selalu dikunjungi oleh banyak orang, yang mana anak tersebut duduk diam di atas kursi roda dengan memakai baju yang kumuh, rambut berantakan, menampung timba kecil sebagai tempat tampungan sedekah dari orang. Ketika sudah mendapatkan sedikit banyak uang, uang tersebut di simpan dalam kantong dan disisakan sedikit, dan uang yang ditinggalkan di dalam timba tersebut ialah uang recehan agar terlihat seperti baru datang atau belum ramai yang memberikan sumbangan padanya. Apabila waktu ashar tiba, Ibunya datang dengan pakaian yang lumayan bagus dan menggunakan cadar untuk memeriksa pendapatan yang sudah di dapatkan oleh anaknya. Apabila pendapatan yang didapat masih terlalu sedikit atau kurang dari biasanya, Ibunya salat ashar dan duduk berdzikir bersama para jamaah lain sambil menunggu mendapatkan sedikit tambahan sumbangan lagi. Setelah itu Ibunya pergi membawa anaknya pulang sambil mengomeli anaknya karena pendapatan yang di dapat kurang dari biasanya.
Ada juga pengemis yang berkeliaran disekitar kampus UIN Ar-raniry yang mana pengemis wanita itu mempunyai ciri-ciri badan yang gemuk dengan pakaian dasternya yang sudah mulai kelihatan usang membawa 2 orang anak, salah satunya berumur sekitar 9 tahun dengan pakaian dan rambut yang berantakan memegangi timba dan baju Ibunya, satunya lagi bayi berumur sekitar 8 bulan yang hanya menggunakan baju tanpa lengan digendong dengan menggunakan kain panjang. Mereka menghampiri para mahasiswa yang sedang duduk-duduk sambil mengerjakan tugas di Fathun Qarib atau di depan museum dan kadang-kadang di fakultas Dakwah sambil menampung timba kecil tanpa berkata apa-apa, jika sudah diberi sedekah pun bahkan mereka tidak mengucapkan terimakasih atau alhamdulillah.
Dan saya juga pernah menemukan anak laki-laki di depan Mesjid raya ketika menjenguk adik dan anggota sekolahnya yang sedang beristirahat disana, mereka berumur sekitar 5 dan 3 tahun memilih botol minuman dan kadang merebut botol minuman yang sedang diminum oleh orang-orang yang duduk disekitarnya, dan pernah juga dia merebut uang yang sedang dipegang oleh orang yang sedang duduk tersebut. Ketika mereka diberi makanan oleh orang, saya terharu melihat mereka yang masih kecil membagi makanan dan menyuapi adiknya makan, sang adik pun membukakan minuman dan menyuapinya kepada si abang. Setelah makan mereka tidak bermain ataupun duduk, mereka langsung kembali mengumpulkan botol bekas dan bahkan bekas batok kelapa pun dipungutnya dan dimasukkan kedalam karung. Penampilannya tidak terlalu kumuh, dan memakai pakaian yang rapi dengan baju kaos dan celana panjang, dan adiknya hanya mengenakan baju kaos yang besar dengan celana pendek yang longgar. Ketika ditanyakan kepada mereka siapa yang menyuruh mereka melakukan itu, mereka menjawab bahwa mereka disuruh oleh Ayahnya, anak yang malang. Tapi setidaknya dengan melihat mereka, para peminta-minta yang mempunyai anggota tubuh yang lengkap merasa malu terhadap anak-anak tersebut. Mereka lebih memilih berkeliaran mengumpulkan botol bekas dari pada harus duduk dan menadahkan tangan mengharap belas kasihan dari orang lain.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar